Kumpulan Contoh Tembang Macapat Lengkap dengan Penjelasannya

Tembang Macapat – Macapat merupakan tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait tembang macapat memiliki baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra memiliki sejumlah guru wilangan (suku kata) tertentu, dan diakhiri dengan bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu.

Biasanya macapat diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata. Namun ini bukan satu-satunya arti, karena pada prakteknya tidak semua tembang macapat bisa dinyanyikan empat-empat suku kata.

Kapan munculnya pertama kali macapat, sampai saat ini belum ada penemuan yang meyakinkan. Ada yang menyampaikan bahwa Macapat diperkirakan muncul pada akhir Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga, namun hal ini hanya bisa dikatakan untuk situasi di Jawa Tengah. Sebab di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenal sebelum datangnya Islam.

Sejarah Tembang Macapat

Secara umum diperkirakan bahwa macapat muncul pada akhir masa Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga, namun hal ini hanya bisa dikatakan untuk situasi di Jawa Tengah.

Sebab di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenal sebelum datangnya Islam. Sebagai contoh ada sebuah teks dari Bali atau Jawa Timur yang dikenal dengan judul Kidung Ranggalawé dikatakan telah selesai ditulis pada tahun 1334 Masehi.

Namun di sisi lain, tarikh ini disangsikan karena karya ini hanya dikenal versinya yang lebih mutakhir dan semua naskah yang memuat teks ini berasal dari Bali. Sementara itu mengenai usia macapat, terutama hubungannya dengan kakawin, mana yang lebih tua, terdapat dua pendapat yang berbeda.

Prijohoetomo berpendapat bahwa macapat merupakan turunan kakawin dengan tembang gedhé sebagai perantara. Pendapat ini disangkal oleh Poerbatjaraka dan Zoetmulder. Menurut kedua pakar ini macapat sebagai metrum puisi asli Jawa lebih tua usianya daripada kakawin. Maka macapat baru muncul setelah pengaruh India semakin pudar.

Struktur Aturan Tembang Macapat

Sebuah karya sastra macapat biasanya dibagi menjadi beberapa pupuh, sementara setiap pupuh dibagi menjadi beberapa pada. Setiap pupuh menggunakan metrum yang sama. Metrum ini biasanya tergantung kepada watak isi teks yang diceritakan.

Jumlah pada per pupuh berbeda-beda, tergantung terhadap jumlah teks yang digunakan. Sementara setiap pada dibagi lagi menjadi larik atau gatra. Sementara setiap larik atau gatra ini dibagi lagi menjadi suku kata atau wanda. Setiap gatra jadi memiliki jumlah suku kata yang tetap dan berakhir dengan sebuah vokal yang sama pula.

Aturan mengenai penggunaan jumlah suku kata ini diberi nama guru wilangan. Sementara aturan pemakaian vokal akhir setiap larik atau gatra diberi nama guru lagu. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini adalah tabel tembang macapat berdasarkan metrumnya.

tabel-tembang-macapat

tembang macapat berdasarkan metrum

Jadi, ringkasnya:
Guru Gatra merupakan banyaknya jumlah larik (baris) dalam satu bait.
Guru Lagu merupakan persamaan bunyi sajak di akhir kata dalam setiap larik (baris).
Guru Wilangan merupakan banyaknya jumlah wanda (suku kata) dalam setiap larik (baris).

Terdapat 11 macam tembang macapat. Beberapa “tutur" dari orang tua menjelaskan bahwa, kesebelas tembang macapat tersebut sebenarnya menggambarkan tahap-tahap kehidupan manusia dari mulai alam ruh sampai dengan meninggalnya. Ad apun penjelasan makna kesebelas tembang macapat tersebut adalah:

1. Tembang Maskumambang

tembang-maskumambang

tembang maskumambang panduanibu.com

Arti Tembang Maskumambang

Maskumambang berasal dari kata mas dan kumambang. Mas atau emas berarti sesuatu yg sangat berharga, yang bermakna bahwa Anak meskipun masih dalam kandungan merupakan harta yang tak ternilai harganya.

Mambang atau kemambang artinya mengambang. Maskumambang menggambarkan Bayi yang hidup mengambang dalam rahim ibunya. Selama 9 bulan tumbuh dan hidup dalam dunianya yaitu rahim ibunda.

Kata ‘mas’ artinya masih belum diketahui laki-laki atau perempuannya, dan kata ‘kumambang’ artinya hidup yang masih mengambang atau bergantung di alam kandungan sang ibu.

Watak Tembang Maskumambang

Tembang macapat maskumambang juga memiliki watak atau sifat rasa atau karakter yang menggambarkan kesedihan, belas kasihan (welas asih), kesusahan. Tembang maskumambang biasanya digunakan untuk lagu-lagu yang isinya tentang suatu kedukaan yang kasih.

Aturan Tembang Maskumambang

  • Memiliki Guru Gatra: 4 baris setiap bait (Artinya tembang Maskumambang ini memiliki 4 larik atau baris kalimat).
  • Memiliki Guru Wilangan: 12, 6, 8, 8 (Artinya kalimat pertama berjumlah 12 suku kata. Kalimat kedua berjumlah 6 suku kata. Kalimat ketiga berjumlah 8 suku kata. Kalimat keempat berjumlah 8 suku kata).
  • Memiliki Guru Lagu: i, a, i, o (Artinya baris pertama berakhir dengan vokal i, baris kedua berakhir vokal a, dan seterusnya).

Contoh Tembang Maskumambang

Tembang Maskumambang memiliki kaidah/ Wewaton: 12i – 6a – 8i – 8o
Seperti contoh berikut ini :

Kelek-kelek biyung sira aneng ngendi (12i)
Enggal tulungana (6a)
Awakku kecemplung warih (8i)
Gulagepan wus meh pejah (8o)

Pengertian isi tembang maskumambang dari lirik di atas adalah tentang seorang yang benar-benar sedang membutuhkan pertolongan karena terhanyut di sungai dan sudah hampir mati tenggelam.

Dhuh anak mas sira wajib angurmati
Marang yayah rena
Aja pisan kumawani
Anyenyamah gawe susah

Pengertian isi tembang maskumambang dari lirik di atas adalah pesan kepada anak-anak yang seharusnya dapat menghormati orang tua. Jangan sampai seorang anak berani menentang atau membantah orang tua karena bisa berakibat buruk pada dirinya sendiri.

Wong tan manut pitutur wong tuwa ugi
Ha nemu duraka
Ing donya tumekeng akhir
Tan wurung kasurang-surang

Pengertian isi tembang maskumambang dari lirik di atas adalah menggambarkan tentang akibat dari seseorang yang tidak patuh terhadap orang tua. Seorang anak yang durhaka tentu akan mendapatkan kesengsaraan, baik di dunia hingga akhir nanti.

Video Tembang Maskumambang

2. Tembang Mijil

tembang-mijil

tembang mijil pixabay.com

Arti Tembang Mijil

Awal hadirnya manusia di dunia ini digambarkan dalam tembang Mijil yang berarti seorang anak terlahir dari gua garba Ibu. Kata lain dari mijil dalam bahasa jawa adalah wijil, wiyos, raras, medal, sulastri yang berarti keluar.

Macapat Mijil menjadi tembang kedua setelah Maskumambang, tembang macapat maskumambang memiliki makna janin atau jabang bayi yang masih dalam kandungan ibunya.

Kelahiran merupakan proses dimana seorang ibu memperjuangkan dua nyawa sekaligus, dirinya sendiri dan anaknya. Seberat apapun proses itu, didalamnya terdapat cinta dan harapan dari seluruh anggota keluarga, harap-harap cemas namun bahagia dalam menanti kelahiran buah hati.

Jabang bayi yang mijil dari rahim ibunya adalah suci, dia tidak bisa memilih terlahir dari siapa, misalpun terlahir dari hubungan “tidak sah", bayi tetaplah suci, ibarat kertas ia masih bersih putih tanpa coretan. Ketika bayi lahir saat itulah ia mengenal dunia pertama kalinya, ia diberi wewenang untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Ia dihadirkan untuk bisa menjadi “manusia" hingga suatu saat bisa kembali kepada-Nya dengan damai.

Watak Tembang Mijil

Sifat tembang macapat mijil adalah welas asih, pengharapan, laku perihatin dan tentang cinta. Tembang macapat Mijil banyak digunakan sebagai media untuk memberi nasihat, cerita cinta, dan ajaran kepada manusia untuk selalu kuat dan tabah dalam menjalani kehidupan. Gambaran tentang perasaan kesedihan maupun kebahagiaan tercermin dari tembang-tembang macapat Mijil.

Aturan Tembang Mijil

  • Memiliki Guru Gatra: 6 baris setiap bait (Artinya tembang Mijil ini memiliki 6 larik atau baris kalimat)
  • Memiliki Guru Wilangan: 10, 6, 10, 10, 6, 6 (Artinya baris pertama terdiri dari 10 suku kata, baris kedua berisi 6 suku kata, dan seterusnya)
  • Memiliki Guru Lagu: i, o, e, i, i,u (Artinya baris pertama berakhir dengan vokal i, baris kedua berakhir vokal o, dan seterusnya)

Contoh Tembang Mijil

Tembang Mijil memiliki kaidah/ Wewaton: 10i – 6o – 10e – 10i – 6i – 6o
Seperti contoh berikut ini :

Poma kaki dipun eling (10i)
Ing pitutur ingong (6o)
Sira uga satriya arane (10e)
Kudu anteng jatmika ing budi (10i)
Ruruh sarta wasis (6i)
Samubarangipun (6o)

Tembang Mijil ini memang dalam beberapa referensi digunakan sebagai metode dakwah Islam, beberapa referensi menyebutkan Mijil adalah karya dari Ja’far Shodiq atau sunan kudus, sedangkan referensi lainnya mengatakan Mijil digunakan oleh Sunan Gunung Jati untuk berdakwah.

Sedikit memberikan gambaran, bahwa menurut para ahli tafsir sastra Jawa, tembang Macapat itu merupakan urutan sebuah perjalanan seseorang dari lahir sampai mati. “Mijil" adalah yang pertama. Secara harfiah berarti muncul atau tampil, ditafsirkan sebagai sebuah kelahiran.

Ada yang menjelaskan bahwa itu merupakan kelahiran fisik bayi lahir dari kandungan ibunya, ada juga yang menafsirkan sebuah kelahiran ketika orang mulai muncul keinginan untuk menjadi baik, dikatakan sebagai kelahiran kembali.

Menurut narasumber yang sama, bapak Susianto, Tembang Mijil ini memiliki seperangkat tata nilai dan etika yang digunakan dalam konteks masyarakat Jawa. Dan salah satu syair Mijil yang terkenal adalah sebagai berikut,

Dedalane guno lawan sekti
kudu andhap asor
Wani ngalah dhuwur wekasane
Tumungkula yen dipun dukani
Bapang den simpangi
ono catur mungkur

Makna moral yang disampaikan dalam bait lagu tersebut, menurut narasumber adalah sebagai berikut, sebagai studi karakteristik Jawa, adalah sebagai berikut,

1. Dedalane guno lawan sekti. Dibuka dengan sebuah kalimat yang mengabarkan tentang jalan agar seseorang bisa menjadi bermanfaat dan sakti. Pemaknaan tersebut adalah sebuah pengingat kita sebagai manusia, bahwa tujuan hidup bisa dilihat dari dua perspektif yaitu mempersiapkan bekal setelah mati (karena manusia pasti mati), dan melakukan sesuatu agar kesempatan kita hidup di dunia ini, menjadi sebuah kehidupan yang bermakna dan memberi manfaat bagi kehidupan.

Sakti bisa ditafsirkan tentang gambaran sebuah pengetahuan dan ketrampilan seseorang. Bait ini bisa diterjemahkan secara jalan agar kita bermanfaat di dunia ini dengan memiliki kapasitas yang kita miliki. Seorang islam harus memiliki ilmu sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Karena kalau iman saja, kemudian tanpa ilmu, maka itu tidak berguna. Maka harus berilmu dulu, beriman, lalu yang selanjutnya adalah aplikasi dalam bentuk amal.

2. Kudu andhap asor. Yang berarti harus bisa menempatkan diri sehingga kita bisa selalu menghargai orang lain. Andhap asor artinya ‘dibawah’. Bukan dilihat sebagai kita berada dibawah, tapi dilihat sebagai kita menempatkan orang lain selalu lebih tinggi dari kita, selalu kita hargai, selalu kita hormati, tidak peduli apakah dia pejabat atau bukan pejabat, orang pandai atau tidak, kita tetap harus menghargainya sebagai sesama manusia.

Dan menariknya, kalimat ini menjadi bait kedua setelah kalimat pembuka. Seolah memberi penekanan mengenai awal pertama kali seseorang harus mampu untuk ‘tahu diri’, sehingga bisa ‘menempatkan diri’. Untuk kemudian mampu ‘membawa diri’ kita pada tujuan kita sebagai manusia. Ini adalah tata nilai dalam islam, memiliki akhlak yang baik, atau disebut dengan akhlaqul karimah.

3. Wani ngalah dhuwur wekasane. Adalah bait ketiga, mmeiliki makna ketika kita diminta untuk mengalah justru membutuhkan keberanian. Biasanya orang berbicara agar seseorang harus berani agar menang. Tapi ini tidak, justru kita harus berani mengalah.

Dalam islam sendiri kita sangat paham bahwa musuh paling besar seorang manusia adalah dirinya sendiri, egonya sendiri. ‘Mengalah’ bukan berarti kita kalah terhadap orang lain, ‘mengalah’ adalah ketika kita bisa menang atas diri kita sendiri. Sehingga benar juga kata orang-orang itu, bahwa untuk menang harus berani.

Tapi yang dimaksud dalam kalimat tersebut adalah menang terhadap diri kita sendiri, kita memiliki kendali terhadap diri kita sendiri. Kita mampu memimpin diri kita sendiri. Itulah arti ‘mengalah’, dan hal tersebut memang butuh keberanian. Meiliki sikap mengalah akan meningkatkan derajat kita sebagai seorang muslim dimata Allah Ta’ala.

4. Tumungkula yen dipun dukani. Secara harfiah bait ini berarti ‘jangan membantah bila kita dimarahi’. Kita melihat ‘dimarahi’ bisa berarti oleh orang lain, tapi juga bisa oleh ‘kehidupan’, oleh ‘alam’, dan diujung perenungan itu bisa ‘oleh’ Sang Pencipta. Sebuah bencana, kecil atau besar, menimpa diri pribadi atau suatu umat, adalah juga saat kita ‘dimarahi’.

Kita menemui kegagalan. Dan ‘tumungkul’ berarti ‘jangan membantah’. Yang bisa diartikan bahwa saat ‘dimarahi’ sebaiknya ‘tidak membantah’, tidak melawan, tidak putus asa, pantang menyerah, dan juga tidak saling menyalahkan. ‘Tidak membantah’ juga diartikan sebagai diam, mau untuk merenung, mau untuk belajar. Sebagai seorang muslim, menjadi generasi pembelajar sejati ini menjadi satu hal yang wajib dilakukan. Bahasa kerennya adalah ‘Tarbiyah madal hayah’.

5. Bapang den simpangi. Bapang adalah nama sebuah gubahan tarian yang bisa dikonotasikan sebagai bentuk ‘hura-hura’. Bait ini bisa diartikan agar orang sebaiknya menghindari hal-hal yang berifat ‘hura-hura’. Lebih jauh lagi dimaknai sebagai hal-hal yang hanya ada dipermukaan.

Karena konotasi ‘bapang’ bisa diperluas kepada hal-hal yang hanya tampak indah dipermukaan tapi dalamnya rapuh. Mungkin ini bisa dijabarkan kepada sikap-sikap pargmatis, yang menuhankan eksistensi dan pencitraan diri semata, sifat suka dipuji, senang kalau orang lain mengagung-agungkan kita. Hal itulah yang sebaiknya dihindari. Nah, inilah yang dalam Islam disebutkan dengan memiliki sikap qonaah, sederhana, dan tidak berlebih – lebihan.

6. Ono catur mungkur. Bait terakhir ini memiliki makna hafiah untuk mengindari pergunjingan. Pergunjingan biasanya selalu berawal dari prasangka buruk. Kalimat ini adalah sebuah inspirasi, alih-alih kita terlalu menanggapi prasangka buruk terhadap kita, sebaiknya justru kita lebih fokus pada apa yang baik kita kerjaan, dalam rangka memberi manfaat tadi.

Terus berkarya dengan apa yang kita miliki, dengan apa yang kita punya. Mungkin ini adalah seri otokritik untuk Indonesia saat ini. Pertengkaran yang memang sebaiknya dihindari. Dalam islam, bahkan hukumnya bergunjing, ghibah, itu diharamkan.

***

Ada beberapa hal yang bisa diambil dari filosofi tembang mijil dalam masyarakat Jawa, yaitu tentang etika, jelas tercermin dalam semua baitnya, baik bait pertama sampai terakhir. Kemudian yang kedua adalah nilai dakwah islam yang ada di setiap baitnya.

Selain tentunya karya ini dibuat oleh orang islam, nilai – nilai yang terkandung sangat Islami, yang menjelaskan didalamnya tentang makna persaudaraan, makna kesederhanaan hidup, makna kesantunan sikap, makna anti perpecahan, simbol tentang kekuatan yang harus dimiliki agar menebar manfaat dalam kehidupan, dan masih banyak lagi nilai dakwah di tembang Macapat Mijil ini.

3. Tembang Kinanthi

tembang-kinanthi

tembang kinanthi bersamadakwah.net

Arti Tembang Kinanthi

Kinanti berasal dari kata kanthi atau tuntun. Seorang anak yang tumbuh dan berkembang membutuhkan tuntunan dari orang dewasa. Mereka tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ketidakmampuannya dalam segala hal perlu bantuan orang tua.

Pendapat John Locke tentang teori Tabula rasa (dari bahasa Latin kertas kosong) berpandangan bahwa seorang manusia lahir seperti kertas “putih" kosong tanpa isi mental bawaan. Pembentuk kepribadian, perilaku sosial dan emosional, serta kecerdasan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat inderanya terhadap dunia di luar dirinya.

Merujuk dari teori tersebut (meskipun tidak semuanya benar), maka seorang anak yang sedang tumbuh membutuhkan bimbingan agar kelak menjadi manusia dewasa yang bisa dibanggakan. Anak-anak harus mendapatkan pendidikan agar memiliki kecerdasan dan pengetahuan.

Anak-anak harus diberi latihan agar kelak memiliki ketrampilan sehingga menjadi kreatif dan mandiri. Dan sangat penting, anak-anak harus diajarkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Semua itu harus melalui bimbingan dari (kinanthi) orang dewasa.

Watak Tembang Kinanthi

Kinanthi juga memiliki makna yang sama dengan kata kanthi, gandheng, dan kanthil dalam bahasa Jawa. Dimana dalam segi karakter atau sifat atau wataknya, Kinanthi ini cenderung untuk mengungkapkan sebuah nuansa yang membahagiakan, kecintaan dan kasih sayanng, juga keteladanan hidup.

Jadi, tembang Kinanthi ini pun pas dan bisa digunakan untuk lirik-lirik tembang yang bertujuan untuk menyampaikan suatu nasehat hidup dan juga kisah tentang kasih sayang.

Aturan Tembang Kinanthi

  • Memiliki Guru Gatra: 6 baris setiap bait (Artinya tembang Kinanthi ini memiliki 6 larik atau baris kalimat).
  • Memiliki Guru Wilangan: 8, 8, 8, 8, 8, 8 (Artinya baris pertama terdiri dari 8 suku kata, baris kedua berisi 8 suku kata, dan seterusnya).
  • Memiliki Guru Lagu: u, i, a, i, a, i (Artinya baris pertama berakhir dengan vokal u, baris kedua berakhir vokal i, dan seterusnya).

Contoh Tembang Kinanthi

Tembang Kinanthi memiliki kaidah/ Wewaton: 8u – 8i – 8a – 8i – 8a – 8i
Seperti contoh berikut ini:

Anoman malumpat sampun (8u)
Prapteng witing nagasari (8i)
Mulat mangandhap katingal (8a)
Wanodya yu kuru aking (8i)
Gelung rusak wor lan kisma (8a)
Kang iga-iga kaeksi (8i)

***

Kagyat risang kapirangu
Rinangkul kinempi-kempit
Duh sang retnaning bawana
Ya ki tukang walang ati
Ya ki tukang ngenes ing tyas
Ya ki tukang kudu gering

4. Tembang Sinom

tembang-sinom

tembang sinom http://rejekinomplok.net/

Arti Tembang Sinom

Kata Sinom berarti pucuk yang baru tumbuh atau bersemi. Tembang Sinom ini secara filosofi menggambarkan seorang manusia yang tengah beranjak dewasa, dan telah menjadi seorang pemuda/ remaja yang sedang bersemi.
Ketika menjadi seorang remaja, maka tugas mereka adalah untuk menuntut ilmu sebaik dan setinggi mungkin agar bisa menjadi bekal kehidupannya kelak.

Sinom mengisahkan tahapan manusia pada masa pubertas. Masa ini adalah masa ketika seorang anak akan mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan dari fungsi-fungsi seksual. Masa pubertas dalam kehidupan kita biasanya dimulai saat berumur delapan hingga sepuluh tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun.

Itulah yang dimaksud dengan pengertian puber atau pun pengertian pubertas. Dari segi perubahan psikologis anak pada masa puber berusaha mencari identitas diri dan rasa ingin tahu yang sangat besar. Dalam usaha mencari identitas diri, remaja sering menentang kemapanan karena dirasa membelenggu kebebasannya. Mereka tidak mau dikatakan sebagai anak-anak lagi.

Hal lainnya yang umum ditemui tatkala memasuki masa pubertas adalah ketertarikan terhadap lawan jenis. Hubungan dengan lawan jenis pada masa ini biasa disebut dengan “cinta monyet", yaitu hubungan asmara yang tidak bisa bertahan lama, bersifat sementara dan akan cepat hilang.

Watak Tembang Sinom

Watak atau karakter yang dimiliki tembang Sinom adalah tentang kesabaran dan juga keramahtamahan. Tembang ini juga bisa digunakan untuk menceritakan nasehat yang baik yang mengandung rasa persahabatan.

Aturan Tembang Sinom

  • Memiliki Guru gatra: 9 baris setiap bait (Artinya tembang Sinom ini memiliki 9 larik atau baris kalimat).
  • Memiliki Guru Wilangan: 8, 8, 8, 8, 7, 8, 7, 8, 12 (Artinya baris pertama terdiri dari 8 suku kata, baris kedua berisi 8 suku kata, dan seterusnya).
  • Memiliki Guru Lagu: a, i, a, i, i, u, a, i, a (Artinya baris pertama berakhir dengan vokal a, baris kedua berakhir vokal i, dan seterusnya).

Contoh Tembang Sinom

Tembang Sinom memiliki kaidah/ Wewaton: 8a – 8i – 8a – 8i – 7i – 8u – 7a – 8i – 12a
Seperti contoh berikut ini:

Sinom Gadhung Melati (karya KGPAA Mangkunegoro ke IV)

Nulada laku utama
(Mencontohlah perilaku yang utama)
Tumrape wong tanah Jawi
(Bagi orang di tanah Jawa)
Wong agung ing Ngeksiganda
(Orang besar dari Ngeksiganda/Mataram)
Panembahan Senopati
(Panembahan Senopati)
Kepati amarsudi
(Sangat tekun berusaha)
Sudane hawa lan nepsu
(Mengurangi hawa nafsu)
Pinepsu tapa brata
(Dengan cara laku prihatin/bertapa)
Tanapi ing siyang ratri
(yang dilakukan siang dan malam)
Amamangun karyenak tyasing sesami
(Berkarya membangun ketenteraman hati sesama)

5. Tembang Asmaradana

tembang-asmaradana

tembang asmaradana

Arti Tembang Asmaradana

Asmaradana memiliki makna asmara dan dahana yang berarti api asmara. Tembang ini menggambarkan masa-masa dirundung asmara, dimabuk cinta, ditenggelamkan dalam lautan kasih. Asmara artinya cinta, dan Cinta adalah ketulusan hati, meminjam istilahnya kang Ebiet G.Ade dalam lagunya: “Cinta yang kuberi setulus hatiku entah apa yang kuterima aku tak peduli".

Cinta adalah anugerah terindah dari Gusti Allah dan bagian dari tanda-tanda ke Agungan-Nya. “…Waja’alna Bainakum Mawwaddah Wa Rahmah, Inna Fi Dzaalika La’aayatil Liqoumi Yatafakkaruun". Artinya “…Dan Kujadikan diantara kalian Cinta dan Kasih Sayang, sesungguhnya didalamnya merupakan tanda-tanda(Ke-Agungan-Ku) bagi kaum yang berfikir".

Watak Tembang Asmaradana

Tembang asmaradana memiliki watak atau karakter yang menggambarkan cinta kasih, asmara dan juga rasa pilu atau sedih.

Aturan Tembang Asmaradana

  • Memiliki Guru Gatra: 7 baris setiap bait (Artinya tembang Asmaradana ini memiliki 9 larik atau baris kalimat).
  • Memiliki Guru Wilangan: 8, 8, 8, 8, 7, 8, 8 (Artinya baris pertama terdiri dari 8 suku kata, baris kedua berisi 8 suku kata, dan seterusnya)
  • Memiliki Guru Lagu: a, i, e , a, a, u, a (Artinya baris pertama berakhir dengan vokal a, baris kedua berakhir vokal i, dan seterusnya).

Contoh Tembang Asmaradana

Tembang Asmaradana memiliki kaidah/ Wewaton: 8i – 8a – 8e – 7a – 8a – 8u – 8a
Seperti contoh berikut ini:

Gegaraning wong akrami
(penguat dalam pernikahan)
Dudu bandha dudu rupa
(bukan harta atau fisik)
Amung ati pawitané
(tetapi hatilah modal utamanya)
Luput pisan kena pisan
(sekali jadi, jadi selamanya)
Lamun gampang luwih gampang
(jika mudah, semakin gampang)
Lamun angèl, angèl kalangkung
(jika sulit, sulitnya bukan main)
Tan kena tinumbas arta
(tak bisa ditebus dengan harta)

***

Aja turu soré kaki
(jangan tidur terlalu awal)
Ana Déwa nganglang jagad
(ada dewa yang mengelilingi alam raya)
Nyangking bokor kencanané
(menenteng bokor emasnya)
Isine donga tetulak
(yang berisi doa penolak bala)
Sandhang kelawan pangan
(sandang dan pangan)
Yaiku bagéyanipun
(yaitu bagian untuk)
wong melek sabar narima
(orang yang suka tirakat malam, sabar dan menerima)

Video Tembang Asmaradana

6. Tembang Gambuh

tembang-gambuh

tembang gambuh pixabay.com

Arti Tembang Gambuh

Awal kata gambuh adalah jumbuh/ bersatu yang artinya komitmen untuk menyatukan cinta dalam satu biduk rumah tangga. Dan inti dari kehidupan berumah tangga itu yaitu: “Hunna Li Baasulakum, Wa Antum Libaasu Lahun", artinya “Istri-istrimu itu merupakan pakaian bagimu, dan kamu adalah merupakan pakaian baginya".

Lumrahnya fungsi pakaian adalah untuk menutupi aurat, untuk melindungi dari panas dan dingin. Dalam berumah tangga seharusnya saling menjaga, melindungi dan mengayomi satu sama lain, agar biduk rumah tangga menjadi harmonis dan sakinah dalam naungan Ridlo-Nya.

Tembang macapat Gambuh merupakan salah satu tembang yang berisi tentang berbagai ajaran kepada generasi muda, khususnya mengenai bagaimana menjalin hubungan antara manusia satu dengan yang lainnya.

Watak Tembang Gambuh

Watak atau karakter tembang gambuh adalah tentang keramahtamahan dan persahabatan. Tembang gambuh juga biasa digunakan untuk menyampaikan cerita-cerita kehidupan.

Beberapa kalangan ada yang memaknai kata Gambuh sebagai sebuah kecocokan, sepaham dan sikap bijaksana. Sikap bijaksana berarti dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya, sesuai porsinya, dan mampu bersikap adil.

Nasihat-nasihat mengenai pentingnya membangun rasa persaudaraan, toleransi dan kebersamaan sebagai makhluk sosial banyak tergambar dari tembang-tembang macapat Gambuh. Salah satunya terdapat dalam Serat Wulangreh pupuh III karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Raja Surakarta.

Aturan Tembang Gambuh

  • Memiliki Guru Gatra: 5 baris setiap bait (Artinya tembang Gambuh ini memiliki 5 larik atau baris kalimat).
  • Memiliki Guru wilangan: 7, 10, 12, 8, 8 (Artinya baris pertama terdiri dari 7 suku kata, baris kedua berisi 10 suku kata, dan seterusnya)
  • Memiliki Guru lagu: u, u, i, u, o (Artinya baris pertama berakhir dengan vokal u, baris kedua berakhir vokal u, dan seterusnya).

Contoh Tembang Gambuh

Tembang Gambuh memiliki kaidah/ Wewaton: 7u – 10u – 12i – 8u – 8o
Seperti contoh berikut ini:

Sekar gambuh ping catur,
(Tembang gambuh keempat)
Kang cinatur polah kang kalantur,
(Yang dibicarakan tentang perilaku yang kebablasan)
Tanpa tutur katula-tula katali,
(Tanpa nasihat terjerat penderitaan)
Kadaluwarsa kapatuh,
(Terlanjur menjadi kebiasaan)
Kapatuh pan dadi awon.
(Kebiasaan bisa berakibat buruk)

***

Aja nganti kabanjur,
(Jangan sampai terlanjur)
Barang polah ingkang nora jujur,
(Bertingkah polah yang tidak jujur)
Yen kebanjur sayekti kojur tan becik,
(Jika telanjur tentu akan celaka dan tidak baik)
Becik ngupayaa iku,
(Lebih baik berusahalah)
Pitutur ingkang sayektos.
([menngikuti] ajaran yang sejati)

***

Tutur bener puniku,
(Ucapan yang benar itu)
Sayektine apantes tiniru,
(Sejatnya pantas untuk diikuti)
Nadyan metu saking wong sudra papeki,
(Meskipun keluar dari orang yang rendah derajatnya)
Lamun becik nggone muruk,
(Jika baik dalam mengajarkan)
Iku pantes sira anggo.
(Itu pantas kau pakai)

***

Ana pocapanipun,
(Ada sebuah ungkapan)
Adiguna adigang adigung,
(Adiguna, adigang, adigung)
Pan adigang kidang adigung pan esthi,
(Seperti Adigang-nya kijang, adigung-nya gajah)
Adiguna ula iku,
(Adiguna-nya ular)
Telu pisan mati sampyoh.
(Ketiganya mati bersama dengan sia-sia)

***

Si kidang ambegipun,
(Si kijang memiliki watak)
Angandelaken kebat lumpatipun,
(Menyombongkan kecepatannya melompat/berlari)
Pan si gajah angandelken gung ainggil
(Si gajah menyombongkan tubuhnya yang tinggi besar)
Ula ngandelaken iku,
(Ular menyombongkan)
Mandine kalamun nyakot.
(Keampuhannya dengan menggigit)

***

Iku upamanipun,
(Itu sebuah perumpamaan)
Aja ngandelaken sira iku,
(Jangan menyombongkan diri)
Suteng nata iya sapa kumawani,
(Seorang raja siapa yang berani)
Iku ambeke wong digang,
(Itu perilaku yang adigang)
Ing wasana dadi asor.
(Yang akhirnya bisa merendahkan)

***

Adiguna puniku,
(Watak adiguna adalah)
Ngandelaken kapinteranipun,
(Menyombongakan kepandaiannya)
Samubarang kabisan dipundheweki,
(Seolah semua bisa dilakukan sendiri)
Sapa bisa kaya ingsun,
(Siapa yang bisa seperti aku)
Togging prana nora enjoh.
(ujung-ujungnya tak bisa apa-apa)

***

Ambek adigung iku,
(Watak orang adigung adalah)
Angungasaken ing kasuranipun,
(Menyombongkan keperkasaannya)
Para tantang candhala anyenyampahi,
(Semua ditantang berkelahi dan disepelekan)
Tinemenan nora pecus,
(Jika benar dihadapi, ia tak berdaya)
Satemah dadi geguyon.
(Akhirnya hanya jadi bahan tertawaan)

***

Ing wong urip puniku
(Dalam kehidupan manusia)
Aja nganggo ambek kang tetelu,
(Jangan sampai memiliki watak ketiga tadi)
Anganggowa rereh ririh ngati-ati,
(Milikilah sifat sabar, cermat, dan berhati-hati)
Den kawangwang barang laku,
(Selalu introspeksi pada tingkah laku)
Kang waskitha solahing wong.
(Pandailah membaca perilaku orang lain)

7. Tembang Dhandhanggula

tembang-dhandhanggula

tembang dhandhanggula ladova.net

Arti Tembang Dhandhanggula

Tembang macapat Dandanggula memiliki makna harapan yang indah, kata dandanggula sendiri dipercaya berasal dari kata gegadhangan yang berarti cita-cita, angan-angan atau harapan, dan dari kata gula yang berarti manis, indah ataupun bahagia.

Selain mempunyai arti harapan yang indah, beberapa kalangan juga ada yang menafsirkan Dandanggula berasal dari kata dhandang yang berarti burung gagak yang melambangkan duka, dan dari kata gula yang terasa manis sebagai lambang suka.

Kebahagiaan dapat dicapai setelah sebuah pasangan dapat melampaui proses suka-duka dalam berumah tangga sehingga akan tercapai cita-citanya, cukup sandang, papan dan pangan. Seseorang yang sedang menemukan kebahagiaan dapat diibaratkan lagunya dandanggula.

Watak Tembang Dhandhanggula

Watak atau karakter dari tembang dhandanggula ini bersifat lebih universal atau luwes dan merasuk hati. Jadi, tembang dhandanggula ini bisa digunakan untuk menuturkan kisah dalam berbagai hal dan dalam kondisi apa pun.

Gambaran dari kehidupan yang telah mencapai tahap kemapanan sosial, kesejahteraan telah tercapai, cukup sandang, papan dan pangan (serta tentunya terbebas dari hutang piutang). Kurangi keinginan agar terjauh dari hutang, sebab kata Iwan Fals: “Keinginan adalah sumber penderitaan". Hidup bahagia itu kuncinya adalah rasa syukur, yakni selalu bersyukur atas rezeki yang di anugerahkan Allah SWT kepada kita.

Aturan Tembang Dhandhanggula

  • Memiliki Guru Gatra: 10 baris setiap bait (Artinya tembang Dhandhanggula ini memiliki 10 larik atau baris kalimat).
  • Memiliki Guru Wilangan: 10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7 (Artinya baris pertama terdiri dari 10 suku kata, baris kedua berisi 10 suku kata, dan seterusnya)
  • Memiliki Guru Lagu: i, a, e, u, i, a , u, a, i, a (Artinya baris pertama berakhir dengan vokal i, baris kedua berakhir vokal a, dan seterusnya).

Contoh Tembang Dhandhanggula

Tembang Dhandhanggula memiliki kaidah/ Wewaton: 10i – 10a – 8e – 7u – 9i – 7a – 6u – 8a – 12i – 7a
Seperti contoh berikut ini:

Lamun sira ameguru kaki
(Jika engkau meminta nasehat dariku)
Amiliha manungsa sanyata
(Pilihlah manusia sejati)
Ingkang becik martabate
(Yang baik martabatnya)
Sarta weruh ing ukum
(Serta mengenal hukum)
Kang ibadah lan kang wirangi
(Yang taat beribadah dan menjalankan ajaran agama)
Sukur oleh wong tapa ingkang wus amungkul
(Apalagi mendapat orang suka perihatin yang sudah mumpuni)
Tan gumantung liyan
(Yang tak tergantung orang lain)
Iku wajib guronana kaki
(Kepadanyalah engkau wajib berguru)
Sartane kawruhanana
(Serta belajar padanya)

Video Tembang Dhandhanggula

8. Tembang Durma

tembang-durma

tembang durma pondokecil.com

Arti Tembang Durma

Sifat-sifat buruk digambarkan tembang macapat Durma. Durma bagi beberapa kalangan diartikan sebagai munduring tata krama (mundurnya etika), namun ada juga yang berpendapat berasal dari kata Derma yang berarti suka berbagi rejeki pada orang lain.

Sebagai wujud dari rasa syukur kita kepada Allah maka kita harus sering berderma, durma berasal dari kata darma (sedekah) berbagi kepada sesama. Dengan berderma kita tingkatkan empati sosial kita kepada saudara-saudara kita yang kekurangan, mengulurkan tangan berbagi kebahagiaan, dan meningkatkan kepekaan jiwa dan kepedulian kita terhadap kondisi-kondisi masyarakat disekitar kita.

“Barangsiapa mau meringankan beban penderitaan saudaranya sewaktu didunia, maka Allah akan meringankan bebannya sewaktu di Akirat kelak".

Watak Tembang Durma

Tembang macapat Durma biasanya digunakan untuk menggambarkan sifat-sifat amarah, berontak, dan juga semangat perang. Ia menggambarkan keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk, egois dan ingin menang sendiri.

Aturan Tembang Durma

  • Memiliki Guru Gatra: 7 baris setiap bait (Artinya tembang Durma ini memiliki 7 larik atau baris kalimat)
  • Memiliki Guru Wilangan: 12, 7, 6, 7, 8, 5, 7 (Artinya baris pertama terdiri dari 12 suku kata, baris kedua berisi 7 suku kata, dan seterusnya)
  • Memiliki Guru Lagu: a, i, a, a, i, a, i (Artinya baris pertama berakhir dengan vokal a, baris kedua berakhir vokal i, dan seterusnya)

Contoh Tembang Durma

Tembang Durma memiliki kaidah/ Wewaton: 12a – 7i – 6a – 7a – 8i – 5a – 7i
Seperti contoh berikut ini:

Lamon dika epasrae panggabayan
Ampon mare apeker
Terang ka’eko’na
Ad janji maranta’a
Pon pon brinto tarongguwi
Anggap tanggungan
Ma’ ta’ malo da’ oreng
(Asmoro, 1950 ; 19)

Artinya:
(Jika kamu mendapat beban pekerjaan, sudah selesai dipikir, tentang seluk-beluknya kerja, usaha untuk menyelesaikan, jika demikian haruslah serius, bekerja dengan penuh tanggung jawab, agar tidak mengecewakan orang).

***

Mundur kang dadi tata krama
(Mundur (menjauhi) dari etika)
Dur iku duratmoko duroko dursila
(Dur, itu pencuri, penjahat tak beretika)
Dur iku durmogati dursosono duryudono
(Dur, seperti Durmogati, Dursasana, Duryudana)
Dur udur tan mampu nimbang rasa
(Dur, mau menang sendiri, tak menimbang rasa)
Dur udur paribasan pari kena
(Dur, perumpamaan sekenanya)
Maknane nglaras rasa jroning durma
(Itu perumpamaan Durma)
Sinom dhandanggula kang sinedya
(Remaja dalam mimpi-mimpi indah)
Lali purwaduksina kelon asmaradana
(Lupa segalanya berpeluk asmara)
Lali wangsiting ibu lan rama
(Lupa pesan Ibu Bapaknya)
Mangkono werdine gambuh durma
(Seperti perumpamaan Gambuh dan Durma)
Amelet wong enom ing ngarcapada
(Yang selalu memikat semua kaum remaja dalam kehidupan di muka bumi)
Pan mangkono
(Seperti itu)
Jarwane paribasan parikena
(Maksud pengertian sekenanya)

Video Tembang Durma

9. Tembang Pangkur

tembang-pangkur

tembang pangkur egyptianstreets.com

Arti Tembang Pangkur

Pangkur yang juga berarti mungkur (mundur/ mengundurkan diri), memberi gambaran bahwa manusia mempunyai fase dimana ia akan mulai mundur dari kehidupan ragawi dan menuju kehidupan jiwa atau spiritualnya. Pangkur atau mungkur dapat diartikan juga menyingkirkan hawa nafsu angkara murka, nafsu negatif yang menggerogoti jiwa kita.

Menyingkirkan nafsu-nafsu angkara murka, memerlukan riyadhah/ upaya yang sungguh-sungguh, dan khususnya pada bulan Ramadhan, saat itulah kita gembleng hati kita agar bisa meminimalisasi serta mereduksi nafsu-nafsu angkara yang telah mengotori dinding-dinding kalbu kita.

Watak Tembang Pangkur

Tembang macapat pangkur banyak digunakan pada tembang-tembang yang bernuansa Pitutur (nasihat), pertemanan, dan cinta. Baik rasa cinta kepada anak, pendamping hidup, Tuhan dan alam semesta.

Banyak yang memaknai tembang macapat pangkur sebagai salah satu tembang yang berbicara tentang seseorang yang telah menginjak usia senja, dimana orang tersebut mulai mungkur atau mengundurkan diri dari hal-hal keduniawian. Oleh karena itu sangat banyak tembang-tembang macapat pangkur yang berisi nasihat-nasihat pada generasi muda.

Aturan Tembang Pangkur

  • Memiliki Guru Gatra: 8 baris setiap bait (Artinya tembang Pangkur ini memiliki 8 larik atau baris kalimat)
  • Memiliki Guru Wilangan: 8, 11, 8, 7, 12, 8, 8 (Artinya baris pertama terdiri dari 8 suku kata, baris kedua berisi 11 suku kata, dan seterusnya)
  • Memiliki Guru Lagu: a, i, u, a, u, a, i (Artinya baris pertama berakhir dengan vokal a, baris kedua berakhir vokal i, dan seterusnya)

Contoh Tembang Pangkur

Tembang Pangkur memiliki kaidah/ Wewaton: 8a – 11i – 8u – 7a – 12u – 8a – 8i
Seperti contoh berikut ini:

Salah satu contoh tembang macapat pangkur yang populer di masyarakat adalah karya KGPAA Mangkunegoro IV yang tertuang dalam Serat Wedatama, pupuh I, yakni :

Mingkar-mingkuring ukara
(Membolak-balikkan kata)
Akarana karenan mardi siwi
(Karena hendak mendidik anak)
Sinawung resmining kidung
(Tersirat dalam indahnya tembang)
Sinuba sinukarta
(Dihias penuh warna )
Mrih kretarta pakartining ilmu luhung
(Agar menjiwai hakekat ilmu luhur)
Kang tumrap ing tanah Jawa
(Yang ada di tanah Jawa/nusantara)
Agama ageming aji.
(Agama “pakaian" diri)

Dari tembang macapat pangkur diatas dapat ditafsirkan bahwa, perlu memilih dan menggunakan kata-kata yang bijak dalam mendidik anak. Dari cara bertutur orang tua harus bisa menjadi contoh yang baik, karena dengan kata-kata yang baik tentu akan lebih nyaman untuk didengarkan.

Mendidik bisa melalui tembang yang dirangkai indah agar menarik, sehingga semua nasihat-nasihat tentang ilmu luhur yang ada di tanah jawa dapat dihayati, dan agama bisa menjadi salah satu ajaran dalam kehidupan diri.

Dalam serat Wedhatama pupuh I ini, KGPAA Mangkunegoro IV memberi sebuah gambaran akan pentingnya manusia untuk selalu belajar agar dapat menguasai ilmu luhur. Yang dimaksut dengan ilmu luhur dalam konteks kekinian tentu cerdas secara intelektual (IQ), cerdas secara emosi dan spiritual (ESQ).

Cerdas secara intelektual berarti dia pandai dalam menggunakan logika-logika, sedangkan cerdas secara emosi dan spiritual berarti ia mampu mengelola emosi, sikap, mampu membawa diri, dan memiliki kesadaran tinggi atas dirinya dengan lingkungan dan Tuhannya.

Tembang macapat pangkur di atas hanya merupakan tembang pembuka dalam serat Wedhatama Pupuh I Pangkur. Dalam bait-bait tembang berikutnya KGPAA Mangkunegoro IV dengan jelas juga memberi gambaran tentang perbedaan orang-orang yang berilmu luhur dengan orang yang kurang ilmu.

Jinejer ing Wedhatama
(Tersaji dalam serat Wedhatama)
Mrih tan kemba kembenganing pambudi
(Agar jangan miskin budi pekerti)
Mangka nadyan tuwa pikun
(Padahal meskipun tua dan pikun)
Yen tan mikani rasa
(bila tak memahami rasa)
Yekti sepi sepa lir sepah asamun
(Tentu sangat kosong dan hambar seperti ampas buangan)
Samasane pakumpulan
(Ketika dalam pergaulan)
Gonyak-ganyuk nglelingsemi.
(Terlihat bodoh memalukan)

***

Nggugu karsane priyangga,
(Menuruti kemauan sendiri)
Nora nganggo peparah lamun angling,
(Tanpa tujuan jika berbicara)
Lumuh ingaran balilu
(Tak mau dikatakan bodoh)
Uger guru aleman,
(Seolah pandai agar dipuji)
Nanging janma ingkang wus waspadeng semu,
(Namun manusia yang telah mengetahui akan gelagatnya)
Sinamun samudana,
(Malah merendahkan diri)
Sesadoning adu manis.
(Menanggapi semuanya dengan baik)

***

Si pengung nora nglegewa,
(Si bodoh tak menyadari)
Sangsayarda denira cacariwis,
(Semakin menjadi dalam membual)
Ngandhar-andhar angendukur,
(bicaranya ngelantur kesana-kemari)
Kandhane nora kaprah,
(Ucapannya salah kaprah)
Saya elok alangka longkangipun,
(Semakin sombong bicara tanpa jeda)
Si wasis waskitha ngalah,
(Si bijak mengalah)
Ngalingi marang sipingging.
(Menutupi ulah si bodoh)

***

Mangkono ilmu kang nyata,
(Begitulah ilmu yang benar)
Sanyatane mung we reseping ati,
(Sejatinya hanya untuk menentramkan hati)
Bungah ingaran cubluk,
(Senang jika dianggap bodoh)
Sukeng tyas yen den ina,
(Bahagia dihati bila dihina)
Nora kaya si punggung anggung gumunggung,
(Tak seperti Si bodoh yang haus pujian)
Ugungan sadina dina,
(Ingin dipuji tiap hari)
Aja mangkono wong urip.
(Jangan seperti itu manusia hidup)

***

Uripe sapisan rusak,
(Hidup sekali rusak)
Nora mulur nalare ting saluwir,
(Tidak berkembang akalnya berantakan)
Kadi ta guwa kang sirung,
(Seperti gua gelap yang angker)
Sinerang ing maruta,
(Diterjang angin)
Gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung
(Bergemuruh bergema tanpa makna)
Pindha padhane si mudha,
(Seperti itulah anak muda kurang ilmu)
Prandene paksa kumaki.
(Namun sangat angkuh)

10. Tembang Megatruh

tembang-megatruh

ilustrasi roh keluar dari jasad

Arti Tembang Megatruh

Megatruh atau megat/ pegat (berpisah) dan ruh berarti terpisahnya nyawa dari jasad kita, terlepasnya Ruh/ Nyawa menuju keabadian (entah itu keabadian yang Indah di Surga, atau keabadian yang Celaka yaitu di Neraka).

“Kullu Nafsin Dzaaiqotul Maut", artinya “Setiap Jiwa Pasti Akan Mati".
“Kullu Man Alaiha Faan", artinya “Setiap Manusia Pasti Binasa".

Akankah kita akan menjumpai kematian yang indah (Husnul Khotimah) ataukah sebaliknya?

Seperti kematian Pujangga kita WS Rendra, disaat bulan sedang bundar-bundarnya (bulan Purnama) ditengah malam bulan Sya’ban tepat pada tanggal 6 Agustus atau tanggal 15 Sya’ban (Nisfu Sya’ban).

Diatas ranjang kematiannya, menjelang saat-saat Sakratul Mautnya dia bersyair:

“Aku ingin kembali pada jalan alam"
“Aku ingin meningkatkan pengabdian pada Allah"
“Tuhan aku cinta pada-Mu"

Watak Tembang Megatruh

Watak atau karakter tembang megatruh adalah tentang kesedihan dan kedukaan. Dimana biasa untuk menggambarkan rasa putus asa dan kehilangan harapan.

Aturan Tembang Megatruh

  • Memiliki Guru Gatra: 5 baris setiap bait (Artinya tembang Pangkur ini memiliki 5 larik atau baris kalimat)
  • Memiliki Guru Wilangan: 12, 8, 8, 8, 8 (Artinya baris pertama terdiri dari 12 suku kata, baris kedua berisi 8 suku kata, dan seterusnya)
  • Memiliki Guru Lagu: u, i, u, i, o (Artinya baris pertama berakhir dengan vokal u, baris kedua berakhir vokal i, dan seterusnya)

Contoh Tembang Megatruh

Tembang Megatruh memiliki kaidah/ Wewaton: 12u – 8i – 8u – 8i – 8o
Seperti contoh berikut ini:

Kabeh iku mung manungsa kang pinujul
Marga duwe lahir batin
Jroning urip iku mau
Isi ati klawan budi
Iku pirantine ewong

***

Sigra milir kang gèthèk sinangga bajul
Kawan dasa kang njagèni
Ing ngarsa miwah ing pungkur
Tanapi ing kanan kéring
Kang gèthèk lampahnya alon
(Babad Tanah Jawi, Yasadipura)

11. Tembang Pocung

tembang-pocung

tembang pocung id.islamkingdom.com

Arti Tembang Pocung

Kata Pocung atau Pucung berasal dari kata ‘pocong’ yang menunjukkan kondisi ketika seseorang sudah meninggal maka ia akan dibungkus dengan kain putih atau dipocong sebelum dikebumikan. Filosofi dari tembang pocong ini menunjukkan adanya sebuah ritual untuk melepaskan kepergian seseorang.

Manakala yang tertinggal hanyalah jasad belaka, dibungkus dalam balutan kain kafan/ mori putih, diusung dipanggul laksana raja-raja, itulah prosesi penguburan jasad kita menuju liang lahat, rumah terakhir kita didunia.

“Innaka Mayyitun Wainnahum Mayyituuna", artinya “Sesungguhnya kamu itu akan mati dan mereka juga akan mati".

Watak Tembang Pocung

Watak atau karakter tembang pocung ini bisa dikatakan tentang kebebasan, dan juga tindakan sesuka hati. Dimana tembang pocung ini sering digunakan untuk menceritakan lelucon dan berbagai nasehat.

Aturan Tembang Pocung

  • Memiliki Guru Gatra: 4 (Artinya tembang Pocung ini memiliki 5 larik atau baris kalimat)
  • Memiliki Guru Wilangan: 12, 6, 8, 12 (Artinya baris pertama terdiri dari 12 suku kata, baris kedua berisi 6 suku kata, dan seterusnya)
  • Memiliki Guru Lagu: u, a, i, a (Artinya baris pertama berakhir dengan vokal u, baris kedua berakhir vokal a, dan seterusnya)

Contoh Tembang Pocung

Tembang Pocung memiliki kaidah/ Wewaton: 12u – 6a – 8i – 12a
Seperti contoh berikut ini:

Ngelmu iku kalakone kanthi laku
(Ilmu itu hanya dapat diraih dengan cara dilakukan dalam perbuatan)
Lekase lawan kas
(Dimulai dengan kemauan)
Tegese kas nyantosani
(Artinya kemauan yang menguatkan)
Setya budaya pangekese dur angkara
(Ketulusan budi dan usaha adalah penakluk kejahatan)

***

Angkara gung neng angga anggung gumulung
(Kejahatan besar di dalam tubuh kuat menggelora)
Gegolonganira
(Menyatu dengan diri sendiri)
Triloka lekeri kongsi
(Menjangkau hingga tiga dunia)
Yen den umbar ambabar dadi rubeda.
(Jika dibiarkan akan berkembang menjadi bencana)

***

Beda lamun kang wus sengsem reh ngasamun
(Tetapi berbeda dengan yang sudah suka menyepi)
Semune ngaksama
(Tampak sifat pemaaf)
Sasamane bangsa sisip
(Antar manusia yang penuh salah)
Sarwa sareh saking mardi martatama
(Selalu sabar dengan jalan mengutamakan sikap rendah hati)

***

Taman limut durgameng tyas kang weh limput
(Dalam kabut kegelapan, angkara dihati yang selalu menghalangi)
Karem ing karamat
(Larut dalam kesakralan hidup)
Karana karoban ing sih
(Karena temggelam dalam kasih sayang)
Sihing sukma ngrebda saardi pengira
(Kasih sayang sukma (sejati) tumbuh berkembang sebesar gunung)

***

Yeku patut tinulat tulat tinurut
(Sebenarnya itulah yang pantas dilihat, dicontoh dan patut diikuti)
Sapituduhira
(Sebagai nasehatku)
Aja kaya jaman mangkin
(Jangan seperti zaman nanti)
Keh pra mudha mundhi diri Rapal makna
(Banyak anak muda menyombongkan diri dengan hafalan arti)

***

Durung becus kesusu selak besus
(Belum mumpuni tergesa-gesa untuk berceramah)
Amaknani rapal
(Mengartikan hafalan)
Kaya sayid weton mesir
(Seperti sayid dari Mesir)
Pendhak pendhak angendhak Gunaning jalma
(Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain)

Thanks to:

kesolo.com| |senibudayapacitan.wordpress.com| |pelajaran.click| |rikejokanan.com

Leave a Reply