Ketika Santri Bertasbih

Suasana di kota santri memang asyik dan menyenangkan hati. Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang mengajarkan kepada santrinya nilai-nilai agama, akhlaq dan falsafah hidup. Saat ini banyak sekali pondok pesantren yang berbasis modern dalam arti bukan hanya mengajarkan kitab-kitab kuning tapi juga mengajarkan pelajaran umum (sains).

Tinggal di pondok pesantren sungguh dinamis. Banyak kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan setelah pulang dari kegiatan belajar mengajar (KBM). Banyak hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan, mau tidak mau, suka tidak suka harus melakukannya. Apakah itu? Ya seperti mencuci baju, menghafal, berbahasa (bilingual language), dan lain-lain.

Ketika baru awal masuk pesantren, aku masih sangat lugu, polos dan pendiam. Diwaktu anak-anak lain bermain dan bercanda, aku hanya suka sendiri. Ya kemana-mana sendiri, mau berangkat sholat berjama’ah sendiri, ke kantin sendiri, rasanya seperti tidak punya teman. Tapi ada salah satu temanku yang peduli denganku. Dia mengajakku agar dapat berkomunikasi dengan lainnya. Sampai sekarang yang paling aku ingat adalah nama julukannya yaitu mustadir. Dalam bahasa arab artinya bulat, itu karena wajahnya yang bulat. “ha..haa.."

Dipaksa Agar Terbiasa

www.pixabay.com

www.pixabay.com

Pendidikan di pondok pesantren modern rata-rata menggunakan metode pemaksaan. Sering kali kami mendengar pengurus asrama, asatidz, dan bapak kiyai menyampaikan “dengan dipaksa maka akan terbiasa". Maksud dari perkataan tersebut adalah pondok pesantren memiliki sebuah sistem berupa kedisiplinan atau peraturan-peraturan yang wajib ditaati seluruh santri. Oleh karena itu, santri harus menyesuaikan diri dengan peraturan-peraturan yang berlaku. Bila ada yang melanggar peraturan tersebut maka ia akan terkena sanksi.

Sebelum aku masuk pesantren, aku terbiasa bangun kesiangan. Ketika di pesantren seluruh santri wajib bangun jam 03:30 WIB. Ini adalah hal yang paling sulit di awal kali masuk pondok. Bayangkan aku biasa bangun pagi jam 06:00 kadang-kadang kalau hari libur bisa sampai siang. Memang diawal terasa berat, namun setelah terbiasa aku jadi mudah untuk bangun sebelum subuh dan pastinya banyak sekali manfaat dari kita bangun sebelum subuh. Aku dapat sholat tahajud, dapat menghafal dengan mudah, hati terasa tentram dan dapat membuat tubuh sehat (jauh dari sakit).

Menurutku teori “dipaksa agar terbiasa" sangatlah manjur. Untuk dapat bangun sebelum subuh ada beberapa tahapan. Pertama, harus dipaksa, (mungkin kalau tidak tinggal di pesantren atau suatu lembaga yang memiliki disiplin semacam ini agak sulit. Karena aku tinggal dipesantren jadi mau tidak mau harus bangun, takut kena sanksi hehe).

Kedua, Terpaksa (karena dipaksa jadi terpaksa melakukannya, “salah niat" bukan karena Allah tapi karena takut sama pengurus, bukan karena takut sanksi dari Allah tapi takut terkena sanki dari pengurus).

Ketiga, CARMUK alias cari muka (bagi yang pernah mondok, tidak selamanya berada di bawah, pada suatu saat pasti akan berada di atas. Artinya pada suatu saat pasti akan menjadi pengurus, biasanya dimulai dari kelas 4, 5 dan 6 atau setinggat SMA. Bagi yang pernah merasakan menjadi pengurus, tentunya harus terlihat “WoW" di depan anggotanya. Pengurus berusaha menjadi seorang yang berwibawa dan panutan supaya tidak diremehkan oleh anggotanya. Dalam tahap ini banyak pengurus yang CARMUK alias cari muka. Kadang-kadang ibadah yang dijalaninya tanpa disadari hanya karena jabatannya bukan karena Allah SWT. Astaghfirullah, Ya Allah ampunilah aku).

Keempat, Terbiasa (mungkin setelah melalui tahapan yang panjang tanpa disadari dia akan terbiasa bangun sebelum subuh, terbiasa sholat tahajud, dan terbiasa melakukan hal-hal yang baik meski tidak ada orang yang melihatnya).

Kelima, Ikhlas (ini adalah tahapan tertinggi, dimana segala sesuatunya hanya karena Allah. Seperti halnya kita makan, minum, tidur semuanya dilakukan karena kebutuhan. Begitu juga dengan ibadah yang kita kerjakan, tidaklah terasa berat karena sudah menjadi kebutuhan).

Jadi proses yang sedemikian panjangnya akan membentuk mental dan karakter santri. Tidaklah mudah untuk melewatinya dan tidaklah susah, salah satu jurus yang aku lakukan agar dapat melaluinya adalah jurus air, air itu mengalir kemana arus membawanya. Mengalirlah seperti air, ikutilah segala peraturan yang ada meski banyak rintangan di tengah jalan, segera perbaiki dan ikutilah arus itu kembali.

Thobur

www.panoramio.com

www.panoramio.com

Thobur merupakan aktivitas sehari-hari santri untuk melatih kesabaran. Thobur itu bahasa arab yang artinya ngantre. Budaya ngantre di pondok adalah sesuatu yang lumrah. Hampir disetiap aktivitas ada ngantre. Mulai dari mandi, makan, ngambil tabungan, beli makanan, sampai tiket perpulangan.

Pada suatu ketika kesabaranku diuji. Karena tidak mandi lebih awal (sebelum subuh) akhirnya masuk kereta thobur. Karena thobur panjang dan waktu mandi telah habis, pengurus sudah siap dibawah lorong asrama menanti siapa yang terlambat. “Oh..Tidak, matilah aku" akhirnya aku tidak sempat mandi dan langsung besiap pergi ke sekolah.

Ketika waktu istirahat aku ingin mengambil uangku di kantor tabungan santri untuk jajan dan keperluan lainnya. Saat tiba di lokasi, ternyata kantor tabungan santri telah dipenuhi oleh banyak orang yang sudah thobur. Thoburnya bagaikan ular naga karena saking panjangnya. Ya sudah aku ikut masuk ke dalam antrean paling belakang yang berada di luar pintu masuk. Sedang anteng menunggu sambil baca buku pelajaran, tiba-tiba bel masuk berbunyi tanda waktu istirahat telah berakhir. Santri-santripun berhamburan menuju kelasnya masing-masing. Aku yang sudah lama menunggu ngantre hanya bisa gigit jari “Oh.. Tidak, matilah aku", uang tak dapat kepala berurat.

Sampai pada jam makan siang, bencana thobur pun melanda. Untuk menghadapi bencana tersebut dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Untuk hal yang satu ini tidak main-main, karena ini urusan perut. Siapa cepat dia dapat, kalau telat kena sikat. Sampai pelajaran mahfudzot pun diselewengkan dari “man shobaro dzofiro" yang artinya barang siapa yang sabar ia beruntung, menjadi “man shobaro yantahi" barang siapa yang sabar kehabisan.

Dan ternyata selewengan mahfudzot itupun terjadi padaku. Setelah menunggu lama dengan penuh kesabaran tingkat tinggi. Begitu hampir sampai pada loket pengambilan nasi, ternyata kehabisan. Ketika itu bertepatan dengan bel berbunyi tanda para santri harus masuk kelas sore (sekitar jam 13:45 WIB). “Oh.. Tidak, matilah aku" dengan segera aku tinggalkan math’am (tempat para santri makan) sambil mengelus dada “sabar..sabar".

Jika dipikir-pikir aku hebat ya. Dalam satu hari aku sudah mati tiga kali. Kata-kata yang terucap olehku “Oh.. Tidak, matilah aku" seakan-akan bencana thobur membuat aku mati sesaat. Jadi dalam satu hari aku punya tiga nyawa hehe.

…………………………..Bersambung…………………………..

Nantikan kelanjutannya di Ketika Santri Bertasbih part II

Leave a Reply