Ketika Santri Bertasbih part II

Ta’zir

Ta’zir merupakan istilah dari bahasa arab yang artinya hukuman yang bersifat mendidik atas perbuatan dosa (maksiat) yang hukumannya belum ditetapkan oleh syara’. Sewaktu di pondok dulu ada peraturan yang sulit sekali untuk dipatuhi. Dalam satu hari pasti ada saja pelanggaran. Tidak lain dan tidaklah bukan adalah wajib berbahasa dan ke masjid tepat waktu. Santri yang melanggar pasti akan mendapat hukuman. Mereka yang melanggar akan masuk “Mahkamah” yang artinya tempat bagi para pelanggar untuk mempertanggung jawabkan kesalahan mereka. Mereka disidang kemudian dijatuhkan hukuman.

Pada suatu ketika aku pernah mendapatkan “hattrick” dalam satu hari. Ketika bagian penerangan membacakan nama-nama pelanggar di depan mimbar, namaku ada di bagian bahasa, bagian keamanan, dan bagian kebersihan. Hidup itu butuh kerikil-kerikil kecil yang harus dilewati. Dengan membaca basmalah aku siapkan diri untuk melewati kerikil-kerikil kecil itu. Akhirnya aku datangi semua bagian itu untuk mempertanggung jawabkan kesalahanku.

Pertama yang aku datangi adalah bagian bahasa. Tertulis jelas namaku di papan tulis hitam yang berada di samping pintu masuk. Segera aku masuk dan di dalam sudah siap para pengurus bahasa yang akan mengeksekusi para pelanggar. Sebelum mengeksekusi, seperti biasa ada sedikit drama dari pengurus bahasa. Aku menyebutnya drama karena para pengurus memasang wajah garang, suara lantang, ekspresi marah sambil ceramah pake bahasa arab. Entah aku tak mengerti apa yang dia katakan, hanya ada satu kalimat yang dimengerti, “bla..bla..bla..bla..limadza la tantiquuna bil lughotil ‘arobiyyah?” kalimat belakangnya saja, yang artinya kenapa kalian tidak berbicara menggunakan bahasa arab.

Setelah drama selesai eksekusipun dimulai. Waktu itu aku masih merasakan zaman rotan, kayu dan tempelengan. Ketika itu ta’ziran bagi kami adalah 10 rotan di paha kanan dan kiri. Ya kami langsung membuat antrean. Kali ini bukan antrean sembako atau diberi uang, tapi antrean mendapatkan ta’ziran. Aku diantrean paling akhir, berharap pengurus yang mengeksekusi kelelahan dan pukulannya melemah. Tapi ketika urutan ketiga di depanku pengurus mengganti eksekutor, dan gawatnya eksekutor yang baru ini memiliki tubuh yang besar, berotot, dan tinggi, karena pengurus yang satu ini adalah anggota silat. Aku akhirnya pasrah, dan tibalah giliranku di eksekusi “aaauuu..aaauuu…aaauuu…” itu teriakan dalam hati. Mulut tertutup, mata terpejam, menghasilkan ekspresi wajah yang sedang menahan rasa sakit clekit-clekit.

Setelah sholat maghrib biasanya para santri pergi ke math’am untuk makan malam. Hari itu aku sial, karena banyak urusan dengan para eksekutor jadi makan malamku tertunda. Sesudah mendapatkan pecutan rotan yang clekit-clekit, aku dan para pelanggar lain diberikan tugas sebagai “jasus” yang artinya mata-mata. Kami diwajibkan untuk menyetor dua nama pelanggar baru yang tidak menggunakan bahasa arab. Batas akhir setoran jam 5 sore, kalau tidak nanti bisa masuk mahkamah lagi “hadeeh…capek deh”.

mata-mata jasus www.pixabay.com

mata-mata jasus www.pixabay.com

Setelah selesai urusan di bagian bahasa, aku menuju bagian keamanan. Sebelum masuk aku berharap hukumannya tidak terlalu berat. Ketika sampai depan pintu masuk, aku melihat beberapa pelanggar sudah ada yang dieksekusi. Karena aku baru datang jadi dipisah dan ditangani oleh eksekutor lain. Eksekutor yang satu ini tidak banyak bicara, cuma menanyakan,

“merasa bersalah tidak?” tanya dia dengan wajah garang.

Aku jawab saja iya, agar proses tidak lama. Setelah itu dia menyuruhku untuk push up “ooh.. tidak” ini adalah hal aku benci. Masalahnya push up nya tidak hanya sepuluh duapuluh, tapi seratus. Push up pun menjadi berat karena beberapa kali dia menyuruh untuk menahan di posisi tengah, jadi setengah push up “Oouuuh..sakitnya tuh disini euy”. Setelah sekian lama akhirnya selesai, dan seperti biasa ditutup dengan bersalam-salaman dengan para eksekutor.

Setelah selesai di bagian keamanan, aku langsung pergi ke bagian kebersihan. Entah apa kesalahanku sehingga aku masuk di bagian ini. Ketika sudah berada di dalam, salah satu pengurus memberikan sebuah kertas. Tertulis disana namaku dan kesalahanku. Tenyata dan ternyata seorang jasus telah mencatat bahwa kesalahanku adalah membuang sampah tidak pada tempatnya, tertera disana waktu dan tempatnya. Setelah kupikir-pikir aku tidak merasa malakukan kesalahan tersebut. Aku segera mengatakannya kepada kakak pengurus bahwa aku tidak bersalah.

Terjadilah perdebatan sengit antara aku dan pengurus. Aku mencoba terus untuk meyakinkan para pengurus bahwa aku tidak bersalah. Akhirnya jalan satu-satu memanggil nama jasus yang telah mencatat namaku. Pengurus langsung menyuruh seseorang untuk memanggilnya (jasus yang mencatat namaku) ke bagian kebersihan dengan segera. Ketika sedang menunggu azan isya’ berkumandang. Pengurus kemudian menyuruhku untuk kembali lagi setelah kegiatan belajar malam.

Bayangkan hari itu adalah hari yang sungguh menyebalkan. Waktuku sia-sia, waktu makanku juga tersita, aku berharap setelah belajar malam bisa pergi ke kantin untuk mengisi perut yang sudah berkecamuk. Namun apalah daya, masalah dengan bagian kebersihan belum tuntas, hati was-was dan pikiran panas.

Setelah kegiatan belajar malam selesai, aku segera menuju bagian kebersihan untuk memenuhi permintaannya. Ketika berada disana aku bertemu dengan ketua pengurus kebersihan. Meskipun wajahnya sangar dan badannya kekar, dia adalah orang yang bijaksana.

“limadza ya akhi?” yang artinya “ada apa wahai saudaraku?” tanyanya kepadaku dengan suara khas basnya.

Kemudian aku menjelaskan kepadanya bahwa namaku tercatat sebagai pelanggar, akan tetapi aku tidak merasa melakukan kesalahan tersebut. Dengan nada agak tinggi ia mengatakan,

“Limadza ta’ti al-aan?” artinya “kenapa baru datang sekarang?” tanya dia kepadaku.

Aku menjelaskan kepadanya bahwa hari ini aku mendatangi tiga bagian kepengurusan. Semenjak setelah maghrib sampai tiba waktu isya. Bagian yang terakhir kudatangi adalah bagian kebersihan, namun belum juga tuntas. Kemudian salah seorang pengurus bagian kebersihan menyuruhku kembali setelah belajar malam.

Sambil menepuk-nepuk paha kirinya dia berkata,

“akalta ya akhi?” artinya “sudahkah kamu makan?” tanya dia kepadaku dengan wajah tersenyum.

Akupun menjawabnya tanpa ragu sedikitpun bahwa aku belum makan. Mendengar pertanyaan itu seakan ada setitik cahaya. Dan ternyata benar, ia memberiku roti isi coklat “alhamdulillah…yummy”, tanpa ragu aku menerimanya dan memakannya.

Alhamdulillah satu masalah telah selesei. Sekarang giliran permasalahan utamanya. Belum ada titik terang dari permasalahanku ini, karena jasus yang mencatatku belum juga datang. Sedang asyik makan roti, jasus yang mencatatku akhirnya datang. Ternyata dia adalah temanku satu kelas. Setelah saling bertatapan, aku menjelaskan kembali kepada pengurus bahwa aku tidak bersalah.

Akhirnya temanku berbicara, sungguh membuatku mengelus dada. Ternyata dia salah tulis kelasnya. Di angkatanku memang ada yang sama namanya dengan namaku, namun dengan kelas yang berbeda. Yang dimaksud temanku itu adalah yang duduk di kelas 2A, sedangkan aku duduk di kelas 2B. Temanku pun akhirnya meminta maaf, dengan embel-embel mau mentraktirku makan dikantin.

Oke, akupun memaafkannya. Alhamdulillah urusan dengan bagian kebersihan telah selesai. Masih ada waktu sekitar 15 menit. Aku dengan temanku langsung cus ke kantin. Kebetulan masih laper banget, mumpung ditraktir hehe.

Hari itu menjadi pelajaran berharga bagiku dalam hal kedisiplinan, dan yang paling penting berusaha positif thinking. Karena Allah pasti tau kadar kemampuan hambanya. Akhirnya malam itu aku bisa tidur dengan nyenyak. Zzzzzzzzzz

……………………………Bersambung……………………………

Baca kisah selanjutnya, Ketika Santri Bertasbih part III

Leave a Reply